Google Phone

December 4, 2007

Google rupanya juga tidak tahan melihat perkembangan jumlah telepon seluler di dunia yang meningkat pesat. Baru-baru ini Google mengumumkan bahwa positif akan meluncurkan Google phone. Untuk pasar Asia, telepon seluler dari Google ini akan diproduksi oleh HTC. Google phone sendiri memasukkan berbagai aplikasi layanan Google selama ini yang kita kenal, ke dalam perangkat lunak yang terpasang pada telepon seluler. Sedangkan di Amerika, Google akan bekerja sama dengan operator besar yaitu Verizon. Dengan Google phone ini, Google berupaya menambah pemakaian situs search engine-nya ke para pemakai telepon seluler. Walaupun selama ini, pengguna smartphone dan PDA telah dapat dengan relatif mudah mengakses Google melalui built-in browser, tetapi tampaknya Google ingin melangkah lebih jauh dengan segmen pengguna yang tidak terlalu tech savvy.

Google sendiri memiliki kompetensi yang sangat hebat dalam bidang programming sehingga, Google phone merupakan ekspansi Google untuk melakukan leverage atas kompetensi ini. Ke depan sendiri Google telah serius melakukan kolaborasi dengan berbagai vendor hardware dan software terkemuka dengan membentuk Open Handset Alliance (http://www.openhandsetalliance.org).  Dalam situs ini, Google mengungkapkan visinya bahwa ke depan sebuah ponsel akan memiliki kemampuan komputasi yang tinggi, karena akan memiliki beberapa chip yang terdedikasi untuk berbagai tugas yang berbeda, yaitu CPU, chip grafis, dan juga chip-chip lain. Sehingga sudah saatnya para perancang hardware dan software duduk bersama untuk memaksimalkan kecenderungan ini. Berbagai brand terkemuka seperti Intel, Nvidia, Synaptics, Samsung dan masih banyak yang lain dirangkul oleh Google untuk mengembangkan telepon seluler dan sistem operasi beserta aplikasi-aplikasinya yang bersifat open source. Tentu inisifatif Google ini menarik karena sistem open source memungkinkan setiap pengembang aplikasi meluncurkan dan menjual aplikasi masing-masing, sehingga sistem operasi ponsel dari Google ini, yang sampai saat ini belum jelas brand-nya, sangat potensial akan menjadi sistem operasi ponsel yang sangat powerful seperti pada Symbian version 9.1 pada ponsel-ponsel Nokia.

Akan menarik untuk melihat perkembangan ini dari sudut pandang Wall Street. Apakah harga saham Google akan naik di mata para investor, trader, dan analis? Kita tunggu saja!


Joy Tea dari Sosro

December 4, 2007

Teh Sosro baru saja meluncurkan brand baru yaitu Joy Tea. Positioning-nya amat jelas : “Teh dengan anti oksidan untuk menangkal radikal bebas, dari Ahlinya”. Sesuai tren gaya hidup sehat saat ini, positioning ini begitu tepat. Apalagi dengan TVC yang sangat engaging membuat sukses brand ini tinggal menunggu waktu saja, dan hanya tinggal tergantung dari kecermatan distribusi armada penjualan Sosro. Setelah selama ini sibuk dengan Fruit Tea dan Tebs, Sosro tampaknya melihat ceruk pasar baru yaitu mereka yang sadar kesehatan. Bagi penduduk Jakarta dan kota-kota besar, tampaknya benefit yang ditawarkan cukup mengena. Apalagi dalam TVC ditunjukkan dengan eksplisit faktor-faktor yang menimbulkan radikal bebas yaitu stres dan polusi. Serta ditambah ekspresi gembira model setelah mengkonsumsi Joy Tea, membuat before and after effect dapat dikomunikasikan dengan jelas.

Untuk tetap menjaga momentum bergulirnya brand baru, Joy Tea perlu memikirkan berbagai langkah brand activation dan brand building yang berkelanjutan, sehingga Joy Tea menjadi “seorang teman untuk mencapai hidup lebih sehat”. Bicara mengenai produk minuman, salah satu brand yang begitu kuat brand image dan brand equity-nya adalah Teh Botol Sosro, Pocari Sweat, dan Aqua. Teh Botol Sosro berhasil melakukan rejunevasi dengan tagline yang fenomenal, “Apapun makanannya, minumnya Teh Botol Sosro”. Adapun Pocari Sweat dan Aqua kasusnya agak mirip, karena keduanya merupakan first entrant di kategori masing-masing. Posisi Pocari Sweat terutama yang kaleng sangat sulit digeser oleh para challenger seperti Isotonik, dan lain-lain. Hanya Pocari Sweat agak terlambat di line botol, karena di sini Mizone begitu kuat, apalagi terakhir dengan semua kampanye Maxxibilities-nya.

Mari kita lihat nasib Joy Tea ke depan. Sebuah awal yang bagus, tetapi tentu saja sebuah brand tidak dapat berkembang jika dibiarkan begitu saja. Support yang berkelanjutan dalam bentuk kampanye iklan dan TVC yang mengena akan diperlukan. Jika boleh ber-analogi, Joy Tea seperti tanaman, tunasnya sudah tumbuh dengan baik. Tinggal menjaga saja agar tidak diganggu oleh para kompetitor dalam brand identity-nya.


Bagaimana Menjadi Seorang Marketer Yang Berhasil

December 4, 2007

Beberapa tahun belakangan, kinerja para manajer marketing semakin mendapatkan sorotan dari publik. Hal ini tidak hanya terjadi di dunia, tetapi juga di Indonesia. Betapa tidak, jika dahulu orang marketing seakan hanya berada di balik layar dan memiliki pekerjaan yang administratif belaka, saat ini kursi-kursi marketing adalah “kursi panas”. Gagal dan berhasilnya suatu produk semakin bergeser bebannya ke pundak para manajer marketing berikut stafnya. Bahkan, orang marketing semakin menjadi tumpuan harapan orang sales. Karena di tangan orang marketing-lah, program atau promo bisa diluncurkan. Orang sales biasanya hanya terbatas mengusulkan atau mengajukan proposal saja.

Tentu semakin berat tantangan yang dihadapi, harus semakin gesit dan tajam pula otak dan insting orang marketing. Setelah menjalani beberapa tahun bekerja di dunia marketing, saya merasakan bahwa semua konsep dan ilmu marketing yang sudah dipelajari menjadi sulit diterapkan. Memang, jika kita mendengar para pembicara marketing (yang juga setengah motivator) seperti Hermawan Kertajaya atau Handi Irawan, kita menjadi terinspirasi dan bersemangat untuk menjadi marketer yang hebat, yang kreatif, yang gesit. Tetapi apakah semudah itu?

Orang marketing memang dituntut untuk kreatif dan mampu melakukan terobosan-terobosan guna mencapai target dan menjamin pertumbuhan penjualan dan brand yang berkelanjutan di masa depan. Tetapi, bagaimanapun juga orang marketing hidup dalam sebuah perusahaan. Perusahaan adalah sistem. Ada perusahaan yang sistemnya sudah advanced, bahkan bisa dibilang state of the art. Biasanya semakin kuat sumber daya finansial perusahaan dan semakin cerdas dan berwawasan top management-nya, tim marketing akan diberikan support berupa tim yang lengkap, budget yang cukup besar, serta kewenangan mengeksekusi berbagai program baik advertising, trade promo, maupun below the line activities. Lazimnya, seluruh aktivitas dan program ini, berikut budget dan result yang diharapkan, dituangkan dalam sebuah marketing plan atau brand plan. Beruntunglah jika Anda tergabung dalam perusahaan dengan sistem marketing yang solid, karena secara umum, Anda akan memiliki lebih banyak pilihan untuk mengeksekusi berbagai ide serta inovasi marketing di otak Anda.

Tetapi, ada pula perusahaan-perusahaan yang baru “belajar” menggunakan sistem marketing. Biasanya perusahaan-perusahaan lokal bergerak dalam bidang ini. Bahkan, banyak sekali perusahaan lokal atau yang lazimnya kita sebut swasta nasional, enggan berinvestasi dalam advertising, promo, atau below the line activities. Bisa jadi ada dua sebab, yang pertama, mindset owner atau general manager-nya, adalah salesman mindset atau engineer mindset. Manager atau direktur yang salesman mindset, tidak akan terlalu peduli untuk berinvestasi dalam marketing. Bahkan mereka seakan-akan percaya, dana lebih baik diterjunkan ke aktivitas sales, bisa berupa training untuk sales, rekrutmen sales, atau insentif khusus untuk sales yang berprestasi. Kenyataannya, model seperti ini tidak selalu dapat berjalan dengan baik. Tidak semua salesman bisa berpikir strategis, memikirkan rencana bisnis perusahaannya. Karena pola pikir salesman adalah target gue bulan ini mesti tercapai, bulan depan urusan nanti. Tentu, pola pikir seperti ini cenderung tidak sejalan dengan pola pikir marketing atau bahkan financial management, yang umumnya berani berkorban di saat ini untuk keberhasilan di masa mendatang. Berani mengorbankan target bulan ini jika mencapai target tahunan dan tahun-tahun ke depan lebih tinggi. Sedangkan engineer mindset, agak mirip salesman mindset, tapi bedanya manager yang memiliki engineer mindset cenderung bergerak untuk menginvestasi sumber daya perusahaan ke perbaikan produk, perbaikan proses bisnis di perusahaan, misalnya perbaikan sistem warehousing dan delivery, perbaikan sistem quality control, dan sebagainya. Engineer mindset manager percaya bahwa semakin tinggi kualitas produknya atau semakin sempurna proses kerja bisnis di perusahaannya, akan semakin besar kemungkinan untuk sukses. Ya, pemikiran ini dapat diterapkan sepuluh atau dua puluh tahun lalu. Tetapi di pasar sekarang, di mana kompetisi semakin luas, di mana kita bicara blue ocean, di mana kita bisa menjual barang berkualitas sedang tetapi diposisikan premium di mata konsumen, cara pandang seperti ini juga cukup berbahaya bagi perusahaan.

Sebenarnya menjembatani antara engineer mindset dan salesman mindset adalah pola pikir marketer yang benar. Saya lebih suka melihat orang marketing di perusahaan itu berperan lebih seperti negosiator. Atau bisa juga dilihat sebagai konsultan internal. Orang marketing harus rajin mengendus kompetisi dan melihat celah-celah, untuk mengabarkannya ke orang-orang ‘dalam’ perusahaan, seperti orang sales dan produksi, bahwa ada perubahan-perubahan yang harus dilakukan jika perusahaan mau terus berkembang. Orang marketing adalah agen perubahan. Karena kalau kita bicara secara agak textbook, semua STP maupun marketing mix, maupun bicara lebih grand lagi yaitu strategic thrust, “di darat” atau di suasana kantor sehari-hari, eksekusinya harus melalui satu hal (yang tidak semua orang menyukainya) yaitu : perubahan. Oleh karena itu, orang marketing harus pintar-pintar bernegosiasi, menjual idenya, menjual konsepnya. Dan harus dengan penuh ketulusan, bukan hanya mengejar bonus sesaat, tetapi mengorbankan produk atau brand itu untuk jangka panjang.

Mari kita lihat ilustrasi, sebuah perusahaan sedang kelimpungan menghadapi kompetitornya. Kita sebut saja perusahaan komputer. Dia punya perakitannya. Merek branded tapi lokal. Sebut saja, sebagai contoh hipotetis, mereknya Komputerku.
- dua skenario, main diskon, atau membangun brand, membenahi kualitas dan nilai produk di mata konsumen
- implikasinya beda. Main diskon gampang, semua orang baik internal maupun eksternal oke. Tapi sampai kapan kuat? Kalau membenahi dan brand, berat, invest. Harus “jual ide” ke boss. Harus goal. – di sini kunci jadi marketer yang berhasil.

Jadi semua konsep “di langit” tentang strategic branding, strategic marketing, brand image, sustainable competitive advantage, akan sulit diimplementasi kalau kita tidak menjual ide kita dengan baik. Akhirnya, marketer adalah penjual ide, pengimplementasi ide, sampai berhasil. 

Oleh karena itu, mengikuti jalan logika sederhana ini, maka marketer harus menjadi planner, thinker, sekaligus negosiator yang handal, agar proposalnya dapat diterima oleh boss dan rekan kerja. Berbagai training dan seminar yang dijalani oleh marketer, itu baik, tetapi akan jauh lebih baik lagi bila dieksekusi. Memang tidak ada istilah over training karena kenyataannya, dunia marketing bergerak terus dan kita terus menerus harus belajar. Tetapi belajar tanpa implementasi itu berarti kita membuat diri kita seperti menara gading, yaitu menjadi hal yang bagus, tetapi tidak menghasilkan apa-apa. Oleh karena itu, para fellow marketer, ayo kita menjadi perencana dan peng-implementasi strategi marketing yang handal, agar kita bisa menjadi seorang marketer yang berhasil!