Tata Nano, Mobil Compact dari India Dengan Harga $2000

March 24, 2009

Orang bilang bahwa product innovation selalu bergerak cepat. Bahkan dalam salah satu seminar yang pernah saya hadiri, seorang pakar IT negeri ini, yaitu Dr Richardus Eko Indrajit pernah mengatakan bahwa selama kita masih bisa membuat sebuah produk atau layanan cheaper, better, faster, maka selalu ada peluang bagi kita.

Benar saja, raksasa otomotif dari India, Tata Motors, akan segera meluncurkan produk mobil yang cheaper, bermerek Tata Nano. Bagaimana tidak, dengan harga $2000, mobil ini tentu memiliki daya tarik pasar yang cukup besar, apalagi dengan eksterior yang cukup stylish.

Sejauh mana cakupan market Tata Nano memang belum jelas. Saat ini, baru pasar India saja yang akan disasar oleh Tata. Apakah mobil ini akan bisa dieksport, kita sama-sama belum tahu. Namun demikian, pencapaian retail price $2000 memang cukup fenomenal dari sisi efisiensi operasional dan raw material procurement.

Munculnya Tata Nano membuktikan bahwa persaingan yang semakin disruptif dan bersifat hypercompetition tidak hanya terjadi di industri consumer goods saja, tapi sudah masuk ke industri otomotif juga. Sayangnya, Tata Motor belum terlalu siap memproduksi mobil ini, dan dalam tahun ini diperkirakan hanya dapat memproduksi sebanyak  50.000 unit. Sangat mungkin Tata Motor tidak bisa memenuhi demand akan Tata Nano.

Kalau sudah begini, apa yang akan dilakukan para pesaing? Di India sendiri, beberapa perusahaan otomotif pun telah ikut bersiap masuk ke pasar mobil murah dan compact ini. Maruti Suzuki, misalnya, telah masuk lebih dulu ke pasar dengan Maruti 800 yang tidak se-stylish Tata Nano, namun diterima pasar dengan baik. Bajaj Auto juga telah menggandeng Nissan untuk memproduksinya. Sungguh menarik menyaksikan raksasa-raksasa otomotif ini bersaing di segmen mobil kecil.

Advertisements

Metode Product Design and Development a la CEO P&G A.G. Lafley

March 23, 2009

P&G adalah cerita mengenai kesuksesan bisnis yang fenomenal. Di tangan CEO A.G. Lafley, P&G berhasil memfokuskan marketing resources yang dimiliki untuk merek-merek utama saja, dan membuang merek-merek yang tidak menguntungkan.

Selain itu, P&G juga merombak cara product design and development-nya, dengan lebih mengutamakan insight langsung dari konsumen. Jika semula mereka mengandalkan focus group discussion untuk menggali insight dari konsumen, P&G kemudian menggunakan  dua cara, yaitu Living It dan Working It. Living It adalah cara di mana para market researcher tinggal bersama konsumen selama beberapa hari untuk menggali pengalaman mereka dalam menggunakan produk-produk yang sudah ada, untuk kemudian mengambil insight tersebut sebagai dasar pengembangan produk baru. Banyak produk yang sudah ada memiliki kelemahan tertentu yang dapat diatasi dengan inovasi yang sederhana. 

Sedangkan Working it berarti para market researcher terjun ke toko-toko untuk melihat bagaimana konsumen membandingkan produk mereka dengan produk kompetitor, dan apa yang ada di pikiran konsumen selama proses pemilihan tersebut. 

Dalam buku yang ditulis sendiri oleh CEO P&G A.G. Lafley, The Game Changer, dikatakan bahwa kemampuan perusahaan untuk memahami insight dari konsumen, dan mendengarkan apa yang konsumen mau adalah kunci dari keberhasilan product development. Di sinilah masih banyak perusahaan yang perlu belajar. Tidak jarang proses product development sebuah produk menjadi ego trip, di mana hasil survei pasar tidak mendukung, namun manajemen tetap memaksakan produk tersebut diluncurkan. Hal-hal seperti ini perlu dihindari. Lebih baik resources yang ada digunakan untuk memperkuat produk existing kita.

Lebih lanjut lagi, Lafley mengemukakan hal yang menarik terkait product development dan inovasi dalam perusahaan, sebagai berikut: “To succeed, companies need to see innovation not as something special that only special people can do, but as something that can become routine and methodical, taking advantage of the capabilities of ordinary people”.  Sebuah pernyataan yang berani sekaligus perlu didukung. Mengapa? Karena inovasi yang berhasil tentu membuat alokasi sumber daya di perusahaan lebih efisien, kegagalan menurun, dan perusahaan tumbuh. Seluruh stakeholders akan diuntungkan.