Menemukan Kembali Arti Online Marketing Dilihat Dari Perspektif Strategic

March 19, 2009

Menemukan Kembali Arti Online Marketing Dilihat Dari Perspektif Strategic

oleh Beta Ismawan (Squirrel Consulting -https://squirrelconsulting.wordpress.com)

Seiring dengan terus meningkatnya jumlah pengguna Internet di Indonesia, maka kita sebagai marketer harus dengan cepat memaanfaatkan media ini sebagai salah satu marketing channel secara efektif. Pada awalnya, karena orang yang menggunakan dan beraktivitas di dalam Internet disebut sedang “online”, maka semua aktivitas yang dilaksanakan melalui media Internet pun dibubuhi awalan “online”. “Online banking”, “online marketing”, “online store”, “online community”, dan berbagai istilah lain sering kita dengar.

Namun demikian, kita perlu menemukan kembali apa sebenarnya arti kata “online” tersebut. Di dalam marketing, sejak awal tahun 2000-an kita pun mengenal istilah “online marketing”. Jika kita googling, maka berbagai sumber di Internet mendefinisikan online marketing sebagai upaya pemasaran yang dilakukan melalui media Internet.

Jika melihat dari perspektif ini, tidak salah memang. Namun demikian, apakah benar bahwa “online marketing” dan “marketing tradisional” perlu dipisahkan? Dengan jumlah pengguna Internet di Indonesia telah mencapai angka 25 juta orang (data tahun 2007 dari APJII), maka online marketing dan marketing tradisional akan menyatu. Janji yang kita berikan dalam iklan-iklan online harus menggunakan bahasa yang sama dengan iklan yang kita luncurkan di media tradisional seperti TV, radio, billboard, serta berbagai below the line event.

Akan tiba saat di mana Internet menjadi sebuah kelaziman dan biaya koneksi begitu murahnya. Di saat itu, tidak akan ada lagi batasan antara online marketing dan marketing tradisional. Bahkan marketing di dunia yang sepenuhnya wired (di mana konsumen saling terkoneksi dengan Internet) akan berbeda lingkungan strategic-nya dibandingkan marketing di kondisi pasar yang belum wired. Interaksi antar konsumen begitu mudah, reputasi produk dan merek dipertaruhkan setiap hari, sehingga kita harus bekerja lebih smart mengelola merek dan marketing effort kita.

Sebelum saat itu tiba, sekarang waktunya bagi kita benar-benar menyatukan antara online marketing dan traditional marketing, sehingga marketing effort yang kita kerjakan menjadi benar-benar integrated dan menghasilkan dorongan maksimal untuk pertumbuhan perusahaan.

———————————————

perhatian : dilarang meng-copy artikel ini tanpa ijin tertulis dari Squirrel Consulting.

Advertisements

Bagaimana Menjadi Seorang Marketer Yang Berhasil

December 4, 2007

Beberapa tahun belakangan, kinerja para manajer marketing semakin mendapatkan sorotan dari publik. Hal ini tidak hanya terjadi di dunia, tetapi juga di Indonesia. Betapa tidak, jika dahulu orang marketing seakan hanya berada di balik layar dan memiliki pekerjaan yang administratif belaka, saat ini kursi-kursi marketing adalah “kursi panas”. Gagal dan berhasilnya suatu produk semakin bergeser bebannya ke pundak para manajer marketing berikut stafnya. Bahkan, orang marketing semakin menjadi tumpuan harapan orang sales. Karena di tangan orang marketing-lah, program atau promo bisa diluncurkan. Orang sales biasanya hanya terbatas mengusulkan atau mengajukan proposal saja.

Tentu semakin berat tantangan yang dihadapi, harus semakin gesit dan tajam pula otak dan insting orang marketing. Setelah menjalani beberapa tahun bekerja di dunia marketing, saya merasakan bahwa semua konsep dan ilmu marketing yang sudah dipelajari menjadi sulit diterapkan. Memang, jika kita mendengar para pembicara marketing (yang juga setengah motivator) seperti Hermawan Kertajaya atau Handi Irawan, kita menjadi terinspirasi dan bersemangat untuk menjadi marketer yang hebat, yang kreatif, yang gesit. Tetapi apakah semudah itu?

Orang marketing memang dituntut untuk kreatif dan mampu melakukan terobosan-terobosan guna mencapai target dan menjamin pertumbuhan penjualan dan brand yang berkelanjutan di masa depan. Tetapi, bagaimanapun juga orang marketing hidup dalam sebuah perusahaan. Perusahaan adalah sistem. Ada perusahaan yang sistemnya sudah advanced, bahkan bisa dibilang state of the art. Biasanya semakin kuat sumber daya finansial perusahaan dan semakin cerdas dan berwawasan top management-nya, tim marketing akan diberikan support berupa tim yang lengkap, budget yang cukup besar, serta kewenangan mengeksekusi berbagai program baik advertising, trade promo, maupun below the line activities. Lazimnya, seluruh aktivitas dan program ini, berikut budget dan result yang diharapkan, dituangkan dalam sebuah marketing plan atau brand plan. Beruntunglah jika Anda tergabung dalam perusahaan dengan sistem marketing yang solid, karena secara umum, Anda akan memiliki lebih banyak pilihan untuk mengeksekusi berbagai ide serta inovasi marketing di otak Anda.

Tetapi, ada pula perusahaan-perusahaan yang baru “belajar” menggunakan sistem marketing. Biasanya perusahaan-perusahaan lokal bergerak dalam bidang ini. Bahkan, banyak sekali perusahaan lokal atau yang lazimnya kita sebut swasta nasional, enggan berinvestasi dalam advertising, promo, atau below the line activities. Bisa jadi ada dua sebab, yang pertama, mindset owner atau general manager-nya, adalah salesman mindset atau engineer mindset. Manager atau direktur yang salesman mindset, tidak akan terlalu peduli untuk berinvestasi dalam marketing. Bahkan mereka seakan-akan percaya, dana lebih baik diterjunkan ke aktivitas sales, bisa berupa training untuk sales, rekrutmen sales, atau insentif khusus untuk sales yang berprestasi. Kenyataannya, model seperti ini tidak selalu dapat berjalan dengan baik. Tidak semua salesman bisa berpikir strategis, memikirkan rencana bisnis perusahaannya. Karena pola pikir salesman adalah target gue bulan ini mesti tercapai, bulan depan urusan nanti. Tentu, pola pikir seperti ini cenderung tidak sejalan dengan pola pikir marketing atau bahkan financial management, yang umumnya berani berkorban di saat ini untuk keberhasilan di masa mendatang. Berani mengorbankan target bulan ini jika mencapai target tahunan dan tahun-tahun ke depan lebih tinggi. Sedangkan engineer mindset, agak mirip salesman mindset, tapi bedanya manager yang memiliki engineer mindset cenderung bergerak untuk menginvestasi sumber daya perusahaan ke perbaikan produk, perbaikan proses bisnis di perusahaan, misalnya perbaikan sistem warehousing dan delivery, perbaikan sistem quality control, dan sebagainya. Engineer mindset manager percaya bahwa semakin tinggi kualitas produknya atau semakin sempurna proses kerja bisnis di perusahaannya, akan semakin besar kemungkinan untuk sukses. Ya, pemikiran ini dapat diterapkan sepuluh atau dua puluh tahun lalu. Tetapi di pasar sekarang, di mana kompetisi semakin luas, di mana kita bicara blue ocean, di mana kita bisa menjual barang berkualitas sedang tetapi diposisikan premium di mata konsumen, cara pandang seperti ini juga cukup berbahaya bagi perusahaan.

Sebenarnya menjembatani antara engineer mindset dan salesman mindset adalah pola pikir marketer yang benar. Saya lebih suka melihat orang marketing di perusahaan itu berperan lebih seperti negosiator. Atau bisa juga dilihat sebagai konsultan internal. Orang marketing harus rajin mengendus kompetisi dan melihat celah-celah, untuk mengabarkannya ke orang-orang ‘dalam’ perusahaan, seperti orang sales dan produksi, bahwa ada perubahan-perubahan yang harus dilakukan jika perusahaan mau terus berkembang. Orang marketing adalah agen perubahan. Karena kalau kita bicara secara agak textbook, semua STP maupun marketing mix, maupun bicara lebih grand lagi yaitu strategic thrust, “di darat” atau di suasana kantor sehari-hari, eksekusinya harus melalui satu hal (yang tidak semua orang menyukainya) yaitu : perubahan. Oleh karena itu, orang marketing harus pintar-pintar bernegosiasi, menjual idenya, menjual konsepnya. Dan harus dengan penuh ketulusan, bukan hanya mengejar bonus sesaat, tetapi mengorbankan produk atau brand itu untuk jangka panjang.

Mari kita lihat ilustrasi, sebuah perusahaan sedang kelimpungan menghadapi kompetitornya. Kita sebut saja perusahaan komputer. Dia punya perakitannya. Merek branded tapi lokal. Sebut saja, sebagai contoh hipotetis, mereknya Komputerku.
– dua skenario, main diskon, atau membangun brand, membenahi kualitas dan nilai produk di mata konsumen
– implikasinya beda. Main diskon gampang, semua orang baik internal maupun eksternal oke. Tapi sampai kapan kuat? Kalau membenahi dan brand, berat, invest. Harus “jual ide” ke boss. Harus goal. – di sini kunci jadi marketer yang berhasil.

Jadi semua konsep “di langit” tentang strategic branding, strategic marketing, brand image, sustainable competitive advantage, akan sulit diimplementasi kalau kita tidak menjual ide kita dengan baik. Akhirnya, marketer adalah penjual ide, pengimplementasi ide, sampai berhasil. 

Oleh karena itu, mengikuti jalan logika sederhana ini, maka marketer harus menjadi planner, thinker, sekaligus negosiator yang handal, agar proposalnya dapat diterima oleh boss dan rekan kerja. Berbagai training dan seminar yang dijalani oleh marketer, itu baik, tetapi akan jauh lebih baik lagi bila dieksekusi. Memang tidak ada istilah over training karena kenyataannya, dunia marketing bergerak terus dan kita terus menerus harus belajar. Tetapi belajar tanpa implementasi itu berarti kita membuat diri kita seperti menara gading, yaitu menjadi hal yang bagus, tetapi tidak menghasilkan apa-apa. Oleh karena itu, para fellow marketer, ayo kita menjadi perencana dan peng-implementasi strategi marketing yang handal, agar kita bisa menjadi seorang marketer yang berhasil!