TED : Technology, Entertainment and Design

March 20, 2009

TED : Technology, Entertainment and Design

oleh Beta Ismawan (https://squirrelconsulting.wordpress.com)

Bagi Anda yang sering menelusuri mesin pencari Google untuk menemukan sumber-sumber referensi bermutu mengenai bisnis maupun teknologi, cepat atau lambat Anda akan menemukan situs TED.com. 

TED.com adalah fenomena menarik. Sebuah sebuah bisnis, TED bergerak sebagai event organizer untuk seminar-seminar dengan topik terkini di tiga bidang, yaitu teknologi, entertainment, dan desain. Lebih uniknya lagi, tidak seperti seminar yang biasanya diselenggarakan secara gratis, TED justru menyeleksi peserta dan anggotanya. Tidak semua orang bisa menjadi member TED dan boleh hadir.

Intinya, Anda punya uang, belum tentu Anda bisa hadir di seminar TED. Yang boleh menjadi audience adalah mereka yang dianggap oleh TED merupakan leader di bidangnya dan mampu memberikan kontribusi topik seminar apa yang dipilih. Biaya member reguler $2000 per tahun, sedangkan member elit yang disebut patron member biayanya $10.000 per tahun. Angka yang fantastis, namun biaya sebesar itu Anda dapat hadir di rangkaian seminar TED sepanjang tahun. Seminar itu disebut TED sebagai “TED conferences”.

OK, mungkin jika biaya sebesar itu terlalu tinggi, Anda tetap dapat melihat secara streaming dan bahkan men-download  video seminar tersebut secara gratis. Pakar yang berbicara sangat beragam, namun berbagai nama besar misalnya Al Gore, Malcolm Gladwell, Seth Godin, Chris Anderson (penulis The Long Tail), dan masih banyak lainnya. Topik yang ada pun banyak sekali macamnya, tapi selalu berkisar teknologi, entertainment dan desain. 

TED.com boleh dibilang seperti YouTube juga, menyediakan content yang berkualitas tinggi, sehingga kita sebagai marketer dan manajemen mendapatkan berbagai input terkini, gratis. Cukup dari laptop kita saja. Tampaknya era penyebaran informasi dengan biaya sangat rendah memang benar-benar telah tiba, sehingga kita sendirilah marketer yang harus belajar sekuat-kuatnya. Beberapa video TED yang pernah saya download memang sangat strategis isinya dan membuat kita mampu memikirkan ulang arah bisnis kita. Silakan Anda coba browse dan temukan video yang Anda sukai topiknya.

Bisnis yang unik dan hebat, sekaligus  juga sumber referensi isu terkini yang sangat inovatif, itulah TED.com. 

———————————————

perhatian : dilarang meng-copy artikel ini tanpa ijin tertulis dari Squirrel Consulting.


Pengaruh Blog Terhadap Marketing Dan Perlunya Corporate Blog

March 15, 2009

Pengaruh Blog Terhadap Marketing Dan Perlunya Corporate Blog

oleh Beta Ismawan (Squirrel Consulting)

Blog dan blogger adalah dua komponen di dunia Internet yang banyak mengubah arus informasi di pasar. Bicara marketing, tentu kita juga bicara komunikasi massa dan arus informasi, di mana marketer dan manajemen berusaha mempengaruhi target market yang dituju untuk yakin dengan value yang kita tawarkan. Cara yang ditempuh bermacam-macam, baik melalui advertising, promo, viral marketing, maupun publisitas.

Dahulu saat Internet belum ada, informasi mengenai produk dan layanan kita tentu dominan berasal dari perusahaan kita sendiri. Kita pada saat itu dapat lebih mudah mempengaruhi persepsi konsumen melalui media-media tradisional. Nah, di era Internet sekarang ini, pengaruh blogger sebagai customer dan reviewer semakin besar terhadap informasi yang beredar di pasar. Bahkan, untuk pasar gadget dan consumer electronics di Amerika dan Eropa  misalnya, beberapa blog menjadi acuan konsumen, terutama para mania gadget (gadget freak). Contohnya adalah Engadget, yaitu sebuah blog yang sangat update akan perkembangan gadget. Silakan klik di sini untuk melihatnya. 

Belum lagi situs-situs lain, untuk pasar Asia, misalnya Cnet Asia, bisa dilihat di sini. Mereka melakukan banyak sekali review akan produk consumer electronics, sehingga rasanya peran iklan tradisional yang kita luncurkan, berubah dari yang semula kita harapkan memicu purchase, menjadi cenderung beperan sebagai teaser saja, untuk mendorong konsumen mencari informasi lebih jauh di Internet.

Namun berbeda industri, tentu berbeda dampaknya. Di bidang consumer goods terutama toiletries dan food, misalnya, dampak blog terhadap efektivitas marketing tampaknya masih kecil. Hal ini dapat ditarik dari habit konsumen saat membeli consumer goods, di mana involvement begitu rendah, dan risiko dari switching produk tidak terlalu besar. Oleh karena itu, yang harus diwaspadai oleh marketer consumer goods dari blog bukanlah kemampuan blog mengulas performa produk kita, namun justru kemampuan blog untuk menyebarkan word of mouth dengan cara yang cepat dan viral.

Kemampuan teknologi informasi, baik blog, website, maupun email untuk menyebarkan informasi tentang produk kita tidak bisa dianggap remeh. Tentu kita masih ingat beberapa kasus email yang berisi berbagai informasi peringatan tentang produk tertentu. Pernah ada produk farmasi over the counter yang melalui email diisukan mengandung bahan berbahaya. Pernah pula ada hasil survei amatir tentang produk donat yang membandingkan berbagai brand donat satu dengan yang lain, dengan presumsi bahwa jika donat cepat hancur, maka pengawetnya sedikit dan lebih sehat. Jika Anda cukup aktif ber-forward ria di email dengan teman-teman sekantor, Anda mungkin pernah mendapatkan email-email seperti ini. 

Orang yang awam akan suatu industri belum tentu langsung percaya jika membaca informasi-informasi yang berkaitan produk atau brand kita dari email atau blog. Mereka membutuhkan referensi yang lebih pasti. Namun demikian, sudah jamak kita mengerti bahwa informasi bagus mengenai sebuah produk menyebar begitu lambatnya, namun informasi yang buruk dan merusak brand equity produk kita cenderung menyebar begitu cepatnya. 

Oleh karena itu, bagaimana agar kita dapat lebih mempengaruhi persepsi akan merek kita seiring dengan maraknya blogging? Satu langkah yang dapat ditempuh adalah membuat corporate blog sendiri. Di corporate blog tersebut, seorang brand manager dapat menjadi penulis artikelnya secara berkala, sehingga menjadi nara sumber yang lebih terpercaya bagi konsumen mengenai produk atau layanan yang dia pegang.

Saatnya manajemen ‘turun gunung’ untuk berinteraksi langsung dengan customer dan ikut melakukan blogging dalam kapasitas profesional mewakili perusahaan dan brand yang dipegang. Dengan demikian, pengaruh negatif dari blog yang menyebarkan black marketing akan berkurang, karena kita sebagai marketer pun siap untuk memberikan komunikasi yang langsung dan nyata ke konsumen, sehingga mereka dapat membandingkan informasi secara lebih objektif.

———————————————

perhatian : dilarang meng-copy artikel ini tanpa ijin tertulis dari Squirrel Consulting.

Hubungi : squirrelconsulting@gmail.com untuk permintaan copy.


Bagaimana Menjadi Seorang Marketer Yang Berhasil

December 4, 2007

Beberapa tahun belakangan, kinerja para manajer marketing semakin mendapatkan sorotan dari publik. Hal ini tidak hanya terjadi di dunia, tetapi juga di Indonesia. Betapa tidak, jika dahulu orang marketing seakan hanya berada di balik layar dan memiliki pekerjaan yang administratif belaka, saat ini kursi-kursi marketing adalah “kursi panas”. Gagal dan berhasilnya suatu produk semakin bergeser bebannya ke pundak para manajer marketing berikut stafnya. Bahkan, orang marketing semakin menjadi tumpuan harapan orang sales. Karena di tangan orang marketing-lah, program atau promo bisa diluncurkan. Orang sales biasanya hanya terbatas mengusulkan atau mengajukan proposal saja.

Tentu semakin berat tantangan yang dihadapi, harus semakin gesit dan tajam pula otak dan insting orang marketing. Setelah menjalani beberapa tahun bekerja di dunia marketing, saya merasakan bahwa semua konsep dan ilmu marketing yang sudah dipelajari menjadi sulit diterapkan. Memang, jika kita mendengar para pembicara marketing (yang juga setengah motivator) seperti Hermawan Kertajaya atau Handi Irawan, kita menjadi terinspirasi dan bersemangat untuk menjadi marketer yang hebat, yang kreatif, yang gesit. Tetapi apakah semudah itu?

Orang marketing memang dituntut untuk kreatif dan mampu melakukan terobosan-terobosan guna mencapai target dan menjamin pertumbuhan penjualan dan brand yang berkelanjutan di masa depan. Tetapi, bagaimanapun juga orang marketing hidup dalam sebuah perusahaan. Perusahaan adalah sistem. Ada perusahaan yang sistemnya sudah advanced, bahkan bisa dibilang state of the art. Biasanya semakin kuat sumber daya finansial perusahaan dan semakin cerdas dan berwawasan top management-nya, tim marketing akan diberikan support berupa tim yang lengkap, budget yang cukup besar, serta kewenangan mengeksekusi berbagai program baik advertising, trade promo, maupun below the line activities. Lazimnya, seluruh aktivitas dan program ini, berikut budget dan result yang diharapkan, dituangkan dalam sebuah marketing plan atau brand plan. Beruntunglah jika Anda tergabung dalam perusahaan dengan sistem marketing yang solid, karena secara umum, Anda akan memiliki lebih banyak pilihan untuk mengeksekusi berbagai ide serta inovasi marketing di otak Anda.

Tetapi, ada pula perusahaan-perusahaan yang baru “belajar” menggunakan sistem marketing. Biasanya perusahaan-perusahaan lokal bergerak dalam bidang ini. Bahkan, banyak sekali perusahaan lokal atau yang lazimnya kita sebut swasta nasional, enggan berinvestasi dalam advertising, promo, atau below the line activities. Bisa jadi ada dua sebab, yang pertama, mindset owner atau general manager-nya, adalah salesman mindset atau engineer mindset. Manager atau direktur yang salesman mindset, tidak akan terlalu peduli untuk berinvestasi dalam marketing. Bahkan mereka seakan-akan percaya, dana lebih baik diterjunkan ke aktivitas sales, bisa berupa training untuk sales, rekrutmen sales, atau insentif khusus untuk sales yang berprestasi. Kenyataannya, model seperti ini tidak selalu dapat berjalan dengan baik. Tidak semua salesman bisa berpikir strategis, memikirkan rencana bisnis perusahaannya. Karena pola pikir salesman adalah target gue bulan ini mesti tercapai, bulan depan urusan nanti. Tentu, pola pikir seperti ini cenderung tidak sejalan dengan pola pikir marketing atau bahkan financial management, yang umumnya berani berkorban di saat ini untuk keberhasilan di masa mendatang. Berani mengorbankan target bulan ini jika mencapai target tahunan dan tahun-tahun ke depan lebih tinggi. Sedangkan engineer mindset, agak mirip salesman mindset, tapi bedanya manager yang memiliki engineer mindset cenderung bergerak untuk menginvestasi sumber daya perusahaan ke perbaikan produk, perbaikan proses bisnis di perusahaan, misalnya perbaikan sistem warehousing dan delivery, perbaikan sistem quality control, dan sebagainya. Engineer mindset manager percaya bahwa semakin tinggi kualitas produknya atau semakin sempurna proses kerja bisnis di perusahaannya, akan semakin besar kemungkinan untuk sukses. Ya, pemikiran ini dapat diterapkan sepuluh atau dua puluh tahun lalu. Tetapi di pasar sekarang, di mana kompetisi semakin luas, di mana kita bicara blue ocean, di mana kita bisa menjual barang berkualitas sedang tetapi diposisikan premium di mata konsumen, cara pandang seperti ini juga cukup berbahaya bagi perusahaan.

Sebenarnya menjembatani antara engineer mindset dan salesman mindset adalah pola pikir marketer yang benar. Saya lebih suka melihat orang marketing di perusahaan itu berperan lebih seperti negosiator. Atau bisa juga dilihat sebagai konsultan internal. Orang marketing harus rajin mengendus kompetisi dan melihat celah-celah, untuk mengabarkannya ke orang-orang ‘dalam’ perusahaan, seperti orang sales dan produksi, bahwa ada perubahan-perubahan yang harus dilakukan jika perusahaan mau terus berkembang. Orang marketing adalah agen perubahan. Karena kalau kita bicara secara agak textbook, semua STP maupun marketing mix, maupun bicara lebih grand lagi yaitu strategic thrust, “di darat” atau di suasana kantor sehari-hari, eksekusinya harus melalui satu hal (yang tidak semua orang menyukainya) yaitu : perubahan. Oleh karena itu, orang marketing harus pintar-pintar bernegosiasi, menjual idenya, menjual konsepnya. Dan harus dengan penuh ketulusan, bukan hanya mengejar bonus sesaat, tetapi mengorbankan produk atau brand itu untuk jangka panjang.

Mari kita lihat ilustrasi, sebuah perusahaan sedang kelimpungan menghadapi kompetitornya. Kita sebut saja perusahaan komputer. Dia punya perakitannya. Merek branded tapi lokal. Sebut saja, sebagai contoh hipotetis, mereknya Komputerku.
– dua skenario, main diskon, atau membangun brand, membenahi kualitas dan nilai produk di mata konsumen
– implikasinya beda. Main diskon gampang, semua orang baik internal maupun eksternal oke. Tapi sampai kapan kuat? Kalau membenahi dan brand, berat, invest. Harus “jual ide” ke boss. Harus goal. – di sini kunci jadi marketer yang berhasil.

Jadi semua konsep “di langit” tentang strategic branding, strategic marketing, brand image, sustainable competitive advantage, akan sulit diimplementasi kalau kita tidak menjual ide kita dengan baik. Akhirnya, marketer adalah penjual ide, pengimplementasi ide, sampai berhasil. 

Oleh karena itu, mengikuti jalan logika sederhana ini, maka marketer harus menjadi planner, thinker, sekaligus negosiator yang handal, agar proposalnya dapat diterima oleh boss dan rekan kerja. Berbagai training dan seminar yang dijalani oleh marketer, itu baik, tetapi akan jauh lebih baik lagi bila dieksekusi. Memang tidak ada istilah over training karena kenyataannya, dunia marketing bergerak terus dan kita terus menerus harus belajar. Tetapi belajar tanpa implementasi itu berarti kita membuat diri kita seperti menara gading, yaitu menjadi hal yang bagus, tetapi tidak menghasilkan apa-apa. Oleh karena itu, para fellow marketer, ayo kita menjadi perencana dan peng-implementasi strategi marketing yang handal, agar kita bisa menjadi seorang marketer yang berhasil!